Akademisi–Praktisi Kupas 'Tantangan Geoteknik Infrastruktur' dalam Kuliah Pakar FT Universitas Narotama
24 Januari 2026, 17:07:32 Dilihat: 65x
Fakultas Teknik Universitas Narotama menggelar Kuliah Pakar bertajuk “Problematika Geoteknik dalam Pekerjaan Infrastruktur” pada Senin, 19 Januari 2026. Kegiatan ini merupakan kerja sama antara Fakultas Teknik Universitas Narotama, Badan Keahlian Sipil PII (Persatuan Insinyur Indonesia), Ikatan Nasional Tenaga Ahli Konsultan Indonesia (INTAKINDO) , dan Ikatan Nasional Konsultan Indonesia (INKINDO). Kegiatan ini menghadirkan kolaborasi akademisi dan praktisi untuk membahas berbagai persoalan teknis yang kerap muncul dalam pembangunan infrastruktur.
Dekan Fakultas Teknik Universitas Narotama, Dr.Ir. Adi Prawito, M.T., M.M., IPM, menjelaskan bahwa kuliah pakar ini menjadi forum penting untuk mempertemukan dunia akademik dengan realitas lapangan. Menurutnya, topik geoteknik dipilih karena hampir seluruh pembangunan infrastruktur berdiri di atas tanah yang memiliki karakteristik dan permasalahan berbeda-beda di setiap wilayah.
“Infrastruktur dibangun di atas tanah, sementara kondisi tanah di tiap-tiap daerah memiliki problem yang sangat spesifik. Inilah yang sering memicu persoalan seperti penurunan jalan, longsor lereng, hingga kegagalan bangunan,” ujarnya.
Kuliah pakar ini menghadirkan tiga narasumber dengan latar belakang yang saling melengkapi. Narasumber pertama adalah Dr. Ir. Aksan Kawanda, MT, IPM, ahli geoteknik, dosen Universitas Trisakti, Direktur Geotech Efathama, serta Wakil Ketua Badan Keahlian Sipil PII Pusat.
Narasumber kedua, Dr. Ir. Koespiadi, MT, MH, IPU, merupakan Ketua program studi Magister Teknik Sipil Universitas Narotama sekaligus praktisi yang berpengalaman di bidang struktur dan manajemen konstruksi.
Sementara narasumber ketiga, Ir. Irwan Susilo, ST, MT, IPM, adalah Ketua INKINDO Jawa Timur sekaligus Sekretaris Dewan Pakar INTAKINDO Jawa Timur.
“Komposisi narasumber ini sangat lengkap. Ada akademisi dan praktisi yang sama-sama memahami teori dan realitas lapangan,” kata Dr. Adi.
Dalam pemaparannya, para narasumber menegaskan bahwa banyak kegagalan infrastruktur disebabkan oleh data penyelidikan tanah yang tidak memenuhi persyaratan teknis. Dr. Aksan Kawanda menekankan pentingnya kepatuhan terhadap Standar Nasional Indonesia (SNI), terutama dalam pengambilan sampel tanah dan pengujian laboratorium.
“Kalau data awalnya salah, maka analisis dan desainnya juga pasti salah. Ini sangat mendasar,” tegasnya.
Ia juga menyoroti peran pengalaman seorang engineer. Menurutnya, jam terbang sangat memengaruhi kualitas analisis dan pengambilan keputusan. Oleh karena itu, pekerjaan besar seharusnya ditangani oleh engineer dengan level utama atau madya, bukan engineer pemula.
Sementara itu, Dr. Koespiadi menekankan bahwa pondasi merupakan elemen krusial dalam bangunan. Penurunan akibat kesalahan pada perencanaan pondasi dapat berakibat fatal terhadap keamanan dan kekuatan bangunan secara keseluruhan.
Adapun Ir. Irwan Susilo menjelaskan bahwa setiap jenis tanah memiliki karakteristik khusus, mulai dari sifat kembang-susut, tingkat pelapukan, hingga proses sedimentasi. Disinggung pula hubungan jumlah titik penyelidikan tanah terhadap risiko kegagalan bangunan dan biaya investasi konstruksi yang dikeluarkan. Seluruh faktor tersebut harus dianalisis secara teliti sebelum menentukan metode pondasi yang akan digunakan.
Kuliah pakar ini diikuti sekitar 50 peserta yang terdiri dari kalangan profesional, mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Narotama, mahasiswa Politeknik Penerbangan (Poltekbang) jurusan landasan, hingga mahasiswa S3 ITS.
Dr. Adi menilai antusiasme peserta sangat tinggi karena materi yang disampaikan bersifat praktis dan aplikatif.
“Peserta mendapatkan gambaran langsung antara teori dan kondisi di lapangan. Engineer itu tidak boleh hanya bekerja di atas meja, tapi harus turun ke lapangan untuk melihat kondisi riil sebelum mengambil keputusan,” jelasnya.
Sebagai dekan, Dr. Adi berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan guna memperluas wawasan mahasiswa dan civitas akademika.
“Melalui forum seperti ini, mahasiswa dan dosen bisa bertukar pengalaman dengan praktisi, memahami problem nyata di lapangan, dan tidak hanya terpaku pada teori. Ini sangat penting untuk mencetak engineer yang kompeten dan bertanggung jawab,” pungkasnya.